



PELAJARAN :
“SEJARAH INDONESIA”
DISUSUN OLEH :
ASMAN YUSUF
X AK 1
SMK NEGERI 1 BOGOR
TAHUN 2014
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan
kehadirat Allah SWT. Solawat serta salam saya sampaikan kepada junjungan kita
Nabi Besar Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnys.
Terucap pula syukur kepada Allah SWT. Karena atas izin-Nya, saya dapat
menyelesaikan penyusunan makalah ini dengan baik. Dalam makalah ini, saya akan
membahas mengenai akulturasi dan perkembangan budaya islam di Indonesia.
Akulturasi Islam yang akan dibahas berupa akulturasi pada bidang seni bangunan,
seni ukir, aksara, seni sastra, kesenian dan kalender. Sebenarnya masih banyak
akulturasi Islam yang terjadi di Indonesia. Namun, yang saya akan bahas hanya
terbatas pada bidang-bidang yang sudah disebutkan di atas.
Saya
menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna. Namun saya
berharap makalahi ni dapat bermanfaat untuk saya sendiri dan orang lain. Oleh
karena itu, saran dan kritik yang sifatnya membangun dari Bapak/Ibu guru sangat
saya harapkan.
Terima kasih. Semoga bermanfaat.
Bogor, 11 Mei 2014
Penyusun
DAFTAR ISI
Kata pengantar…………………………………………………………………………………………………………………..2
Daftar isi…………………………………………………………………………………………………………………………….3
Pendahuluan……………………………………………………………………………………………………………………..4
Isi dan pembahasan……………………………………………………………………………………………………………11
Penutup…………………………………………………………………………………………………………………………….14
Daftar Pustaka…………………………………………………………………………………………………………………..15
PENDAHULUAN
PROSES
ISLAMISASI DI INDONESIA
Deskripsi Para Ahli Tentang
Masuknya Islam di Nusantara
Sejarah masuknya Islam di Nusantara
menimbulkan banyak tafsiran dari para ahli sejarah dengan argumentasinya yang
mempertanyakan kapan, dimana dan bagaiaman proses masuknya Islam di Indonseia.
Wacana ini sudah diungkapkan melalui berbagai seminar yang dilakukan para ahli
sejarah baik Barat maupun Timur. Barat cenderung mengatakan masuknya Islam di
Nusantara abad ke-13 M, yang antara lain dipelopori oleh Snouck Hugronye, J.P.
Moquete, R.A. Kern Pijnappel. Sementara para ahli Sejarah Timur lebih
memusatkan perhatian pada baad ke-7 M dipelopori oleh Prof. Hamka, T. W.
Arnold, Syed Naguib Al Atta yang berpendapat bahwa sebelum abd ke-7 M sudah
terjalin hubunngan perdagangan dan pelayaran bangsa Arab, India dan Cina di
Indonesia (Nusantara), melalui Pantai Timur Sumatera. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada beberapa teori yang diungkapakan para ahli sejarah tentang
deskripsi masuknya Islam di Nusantara yaitu sebagai berikut :
1.
Teori Gujarat (India)
Teori
ini berpendapat bahwa agama Islam masuk ke Indonseia pada abad ke-13 dan
pembawanya berasal dari Gujarat (Cambay), India. Dasar teori ini adalah: Pertama, kurangnya fakta yamg
menjelasakan peranan bangsa Aab dalam penyebaran di Indonesia. Kedua, karena adanya hubungan dagang
Indonesia dengan India telah lama melalui jalur Indonesia-Cambay-Timur
Tengah-Eropa. Ketiga, adanya batu
nisan Sultan Samudera Pasai yaitu Malik Al Saleh tahun 1297 yang bercorak khas
Gujarat (Azra, 2002, hlm 22).
Pendukung
teori Gujarat (India) ini antara lain dikemukakan oleh beberapa sarjana Belanda
seperti Pijnapel, Snouck Hourgronje, Moqutte yang juga memiliki pandangan yang
berbeda bahwa Islam pertama kali datang ke Indonesia sekitar abad ke-13 berasal dari India. Pinnapel
berpendapat bahwa Islamisasi di Indonesia dilakukan oleh orang-orang Arab
melalui India, terutama Gujarat dan Malabar, dengan argumentasinya bahwa “ada
persamaan antara mazhab Syafi’i di India dengan Indonesia. Mazhab Syafi’I ini
dibawa oleh orang Arab yang bermigrasi dan menetap di Gujarat dan Malabar dan
kemudian melalui perdagangan membawa Islam ke Indonesia” (Azra, 2002, hlm.24).
Sementara Snouck hourgronje berpendapat bhawa “Islam pertama kali masuk ke
Indonesia bukan berasal dari Arab, tetapi dari India karena sudah lama terjalin
hubungan dagang antara India dengan Indonesia dan adanya inskripsi tertua
tentang Islam yang terdapat di Sumatera mengindikasikan adanya hubungan antara
Sumatera dengan Gujarat” (Suryanegara, 1996, hlm.75).
Tampak
perbedaan yang nyata dari kedua ahli Belanda ini menelusuri asala masuknya
Islam ke Nusantara dengan berbagai argumen yang diajukan dan tetap berspekulasi
antara abad ke-12 dan ke-13 merupakan awal masuknya Islam ke Indonesia,
meskipun akhirnya Snouck mengatakan “Muslim Dhaka adalah sebagai perantara
dalam perdagangan antara Muslim Arab terutama yang mengaku sebagai keturunan
Rasulullah Saw. dan menjalankan dakwah Islam dengan Indonseia (Azra, 2002:25).
Jelas di sini Snouck secara impilsit menagkui bahwa Islam tetap berasal dari
Muslim Arab.
Sementara
itu Moquette mengatakan bahwa “memang ada persamaan antara gaya batu nisan
Makam Sultan Nahrasyah yang ada di Pasai (Aceh) 1428 M dan di Gresik 1419 M
(Jawa Timur) nisan Makam Malik Ibrahim dengan batu nisan yang ada di Cambay
(Gujarat) nisan Makam Umar Ibn AL kazaruni tahun 1333 M. Sehingga hal ini
menunjukkan ada hubungan antara Indonesia dengan Gujarat” (Yusuf, 2006,
hlm.36). spekulasi Moquette ini jelas menunjukkan batu nisan dari Gujarat tidak
hanya diproduksi untuk pasar loakal tetapi juga untuk di ekspor ke luar negeri
seperti indonesia, dengan demikian Moquette menganggap secara tidak langsung
orang Indonesia juga mengambil Islam dari wilayah Gujarat. Tetapi ada yang
mengganjal jika diperhatikan tahun pada batu niasan di Pasai dengan di Gresik
seolah-olah pengaruh Islam pertama kali masuk di Gresik. Deskripsi para ahli
yang mendudkung teori Gujarat ini lebih memusatkan perhatiannya pada saat
timbulnya kekuasaan politik Islam.
2.
Teori Arab (Mekkah)
Teori
ini merupakan teori yang baru muncul sebagai sanggahan terhadap teori lama
yaitu Gujarat. Teori Makkah berpendapat Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7
dan pembawanya berasal dari Arab (Mesir). Dasar teori ini adalah : Pertama, pada abad ke-7 yaitu tahun 674
di panatai Barat Sumatera sudah terdapat perkampungan Islam (Arab), dengan
pertimbangan bahwa pedagang Arab sudah mendirikan perkampungan di Kanton sejak
abad ke-4. Hal ini juga sesuai dengan berita Cina. Kedua, Kerajaan Samudera Pasai menganut aliran mazhab Syafi’i,
dimana pengaruh mazhab Syafi’I terbesar pada waktu itu adalah Mesir dan Mekkah.
Sedangkan Gujarat atau India adalah penganut mazhab Hanafi. Ketiga, Raja-raja Samudera Pasai
menggunakan gelar Al-Malik, yaitu gelar tersebut bersala dari Mesir.
Demikian Hamka dalam seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia di
Medan 1963, “menolak kesimpulan Gujarat yang mengabaikan pernan orang Arab
dalam penyebaran agama Islam di Indonesia, sementara orang Arab memiliki
kekuatan perdagangan dan pelayaran, sedangkan Gujarat hanya merupakan kota
persinggahan” (Hasymy. 1981, hlm. 222). Selanjutnya Hamka (Hasymy, 1981, hlm.
221)mengatakan tidaklah salah jika dikatakan “Aceh sebagai Serambi Mekkah,
karena merupakan suatu kenyataan sejarah, Aceh adalah tempat awal kerajann
Islam di Indonesia, dan sebagai tempat pusat pendidikan Agama Islam”, di sini
Hamka bertitik tolak pada Ulama Besar yang dimiliki Aceh yaitu Syaikh Aminuddin
dan Abdurrauf as Sinkily, Hamzah Fanshuri, Nurruddin ar-Raniry, yang banyak
memberikan ilmu Syariat dan Haqiqat pada masyarakatnya yang berpengaruh
terhadap perkembangan Islam di Indonesia.
Untuk meluruskan pandangan para ahli
sejarah di atas ada baiknya memperhatikan pandangan dari Thomas Arnold yang
mengatakan “Islam masuk ke Indonesia berasal dari Arab, dimana para pedagang
Arab membawa Islam saat mereka menguasai perdagangan antara Barat dan Timur
sejak awal abad ke-7 M dan abad ke-8 M. Dapat diduga mereka juga menyebarakan
agama Islam ke Indonesia” (Yusuf, 2006, hlm. 38). Pandangan Arnold ini dapat
dipertimbangkan, karena berdasarkan sumber Cina, menyatakan “menjelang abad
ke-7 M seorang Arab pernah menjadi pemimpin pemukiman Arab Muslim di pesisir
Barat Sumatera. Beberapa orang Arab ini melakuakan kawin campur dengan penduduk
pribumi sehingga kemudian membentuk sebuah komunitas Muslim” (Azra, 2002:27).
Dalam historigrafi tradisional,
seperti dalam Hikayat Raja-Raja Pasai
(1350 M), disebutkan bahwa Syaikh Ismail datang dari Mekkah melalui Malabar
menuju Pasai dan mengislamkan raja Pasai Merah
Silu yang kemudian bergelar Malik al Shalih. Dalam Sejarah Melayu (1500 M) menerangkan tentang Parameswara penguasa
Malaka, diislamkan oleh Sayyid Abd al-Aziz
seorang Arab yang berasal dari Jedah, setelah menganut agama Islam, Parameswara
bergelar Sultan Muhammad Syah.
Kemudian dalam Hikayat Merong Mahawangsa
menjelaskan bahwa penguasa Kedah Phra Ong
Mahawangsa, para menteri dan rakyatnya diislamkan oleh Syaikh Abd Allah
Yamani yang datang dari Mekkah. Setelah menganut agama Islam Phra Ong Mahawangsa bergelar Muzafah Syah. Jelas sekali dalam
pengislaman di wilayah jalur pelayaran dan perdagangan internasional” (Hamka,
1963, hlm. 17). Demikian Azra (2002, hlm. 31) mengungkapakan empat hal yang
disampaiakn historiografi tradisional yang berkaitan dengan Islamisasi di
Indonesia yaitu :
1. Islam Indonesia dibawa langsung
dari tanah Arab.
2. Islam diperkenalkan oleh para guru
atau juru dakwah yang profesional.
3. Yang pertama kali masuk Islam
berasal dari kalangan penguasa.
4. Sebagian besar juru dakwah itu
datang ke Indonesia pada abad ke-12 M dan abad ke-13 M, walaupun sejak abad
ke-1 H atau abad ke-7 M sudah ada orang Indonesia yang menganut agama Islam,
tetapi masih dalam taraf pengenalan dan baru pada abad ke-12 s/d abad ke-16
pengaruh Islam di Indonseia tamapak lebih jelas dan meluas.
Dari
keterangan di atas dapat dipahami, argumentasi dalam teori Arab lebih
menekankan pada peranan kaum Muslim Arab sendiri yang melakuakn Islamisasi baik
karena adanya motif ekonomi, sosial-budaya maupun politik.
3.
Teori Cina
Teori ini menyatakan bahwa Islam
datang bukan dari Timur Tengah, Arab maupun Gujarat ataupun India tetapi dari
daratan Cina, dimana pada abad ke-9 M banyak orang Muslim Cina di Kanton dan
wilayah Cina Selatan yang mengungsi ke Jawa, sebagian ke Kedah dan Sumatera
karena “pada masa pemrintahan Huan Chou terjadi penumpasan terhadap penduduk
Kanton dan wilayah Cina Selatan yang mayoritas pendudknya beragama Islam”
(Alqurtuby, 2003, hlm. 215).
Memang tidak dapat dipungkiri
penagruh Cina sangat kental dalam arsitektur pada Masjid kuno di Demak, Banten.
Selain itu perlu diketahui juga “pada abad ke-8 M s/d 11 M sudah ada pemukiman
Arab Muslim di wilayah Cina dan di Campa
yang memnag sudah mengadakan hubungan perdagangan dengan Indonesia” (Yusuf,
2006, hlm.42).
Pada teori Cina ini telah
menunjukkan bahwa berdasarkan fakta sejarah dengan artefak-artefak yang antara
alin terdapat arsitektur Masjid, juga memberikan gambaran hubungan antara
Cina dan wilayah Indonesia memang sudah
terjalin sebelum abad ke-7 M dan berdasarkan beberapa catatan sejarah, Raden
Fatah sebagai sultan yang berperan dalam penyiaran agama Islam adalah keturunan
Cina yang mempunyai nam Cina Jin Bun,
Sunan Ampel atau Raden Rahmat nama Cinanya Bong
Swi Hoo (de Graaf, 1998, hlm. Vii). Jadi teori ini memberikan juga gambaran
bahwa Islam pun kemungkinan besar bersal dari daratan Cina.
4. Teori Persia
Dalam teori ini lebih menekankan
pada Islam masuk ke Indonsia abad ke-13 dan pembawanya berasal dari Persia
(Iran). Dasar teori ini adalah kesamaan budaya Persia dengan budaya masyarakat
Islam Indonesia. Yang diungkapakan oleh Hosein Djajadininggrat (1963, hlm. 102)
menyatakan bahwa :
“Islam masuk ke Indonesia pada abad
ke-13 M di Sumatera yang berpusat di Samudera Pasai, pembawanya bersal dari
Persia (Iran) dengan argumentasinya adanya persamaan budaya yang berkembang
dikalangan masyarakat Indonesia dengan budayua yang ada di Persia seperti
adanya peringatan 10 Muhram atau Asyura yang merupakan tradisi yang berkembang dalam
masyarakat Syiah untuk memperingati hari kematian Hasan dan Husein cucu Nabi
Muhammad. Di Sumatera Barat peringatan tersebut disebut dengan upacara
Tabuik/Tabut. Sedangkan di pulau Jawa ditandai dengan pembuatan bubur Syuro.
Kemudian adanya persamaan antara ajaran al-Hallaj, tokoh sufi Iran Syeikh Siti
Jenar”.
Teori ini ditunjang dengan pendapat
Mueas dalam Boekhari (1971, hlm. 22) yang menyatakan “pada abad ke-5 M, pada
masa raja-raja Sasanid, banyak orang-orang Persia dan ulamanya sperti Tajuddin
al-Syirazi dan Syyaid Syarif al-ashbahani yang berada di Aceh dan kata Pasai
bersal dari kata Persia”. Sebagaimana pendapat dari Pijnapel mengatakan bahwa
Islam di indonesia, “disamping dari Arab juga mendapat pengaruh dari Persia,
dengan bukti adanya jalur perdagangan dari Teluk Persia ke Pantai Barat India
dan terus menuju kawasan Asia Tenggara melalui selat Malaka” (Boekhari.
1971, hlm. 21).
Menyimak uraian di atas, dapatlah
dipahami bagaimana masing-masing para sejarawan menyimpulkan dengan teori-teori
yang dikemukakannya lebih banyak merefleksikan argumentasinya pada masalah
masuknya Islam di Indonesia sebagai akibat dari adanya hubungan antara para
pedagang Arab, India, Cina, Persia, yang didukung oleh letak geografis
Indonesia yang sangat strategis sebagai jalur pelayaran dan perdagangan antar
pedagang anatar pedagang tersebut, yang lebih terfokuskan pada wilayah ujung
Barat dan Timur Sumatera karena daerah ini sebagai kota bandar yang harus
disinggahi lebih dahulu sebelum selat Malaka menuju kawasan Asia Timur terutama
daratan Cina.
Tentu keempat teori tersebut
masing-masing memliki kebenaran dan kelemahannya. Dengan berbagai deskripsi
yang dipaparkan maka Islam masuk ke Indonesia dengan jalan damai pada abad ke-7
dan mengalami perkembangannya pada abad ke-13 sebagai kekuatan politik. Yang
memegang peranan dalam penyebarannya adalah para pedagang bangsa Arab, Persia
dan Gujarat (India) dan para pedagang Cina yang sudah memeluk ajaarn Islam.
Islam masuk ke Indonesia secara damai dan
tanpa ada pergolakan apapun. Dengan cara yang demikian banyak masyarakat yang
simpati dan menaruh perhati yang lebih terhadap agama Islam. Banyak sekali
bentuk Islamisasi yang terjadi di Indonesia. Untuk itu kamu dapat membaca dan
mempelajari keterangan di bawah ini.
1. Melalui perdagangan
Kesibukan lalu lintas perdagangan abad ke-7 M hingga ke-16 M menjadikan para pedagang muslim ikut berpartisipasi didalamnya. Penyebaran Islam melalui jalur perdagangan ini sangat menguntungkan, karena para raja dan bangsawan turut ambil bagian dalam proses ini. Mereka berhasil mendirikan masjid-masjid dan mendatangkan para mullah-mullah dari negerinya sehingga jumlahnya semakin bertambah banyak. Dan karenanya anak-anak muslim itu menjadi orang Jawa dan kaya. Di beberapa daerah yang bupatinya dari kerajaan Majapahit banyak yang masuk Islam. Hal ini bukan hanya dilandasi faktor politik, tetapi juga karena hubungan dagang dengan kaum muslim.
2. Melalui pernikahan
Secara ekonomi status sosial para pedagang muslim lebih tinggi dibanding penduduk pribumi. Sehingga puteri-puteri pribumi tertarik untuk menjadi istri saudagar muslim tersebut. Sebelum dinikahkan, tentunya mereka harus masuk Islam terlebih dahulu. Dengan pernikahan ini keturunan semakin banyak dan lingkungan semakin luas. Jalur pernikahan lebih menguntungkan ketika anak saudagar muslim menikah dengan anak bangsawan atau anak raja. Sebagaimana yang terjadi antara Sunan Ampel dengan Nyai Manila.
3. Melalui tasawuf
Tasawuf mengajarkan akan kelembutan budi. Mereka mengajarkan ilmu tasawuf yang digabungkan dengan budaya yang sudah ada. Ajaran tasawuf yang dikembangkan berupa memanfaatkan kekuatan magis dan memiliki kemampuan menyembuhkan orang lain. Tentunya atas izin Allah swt.
4. Melalui pendidikan
Jalur ini dengan cara mendirikan pondok pesantren. Para penduduk pribumi dididik oleh para ulama’ dengan pendidikan yang kuat dan diberi bekal segala ilmu agama. Setelah dirasa cukup, mereka disuruh kembali ke daerahnya dan diharuskan menyebarkan ilmu yang telah didapatkan dipesantren.
5. Melalui kesenian
Yang paling terkenal adalah seni pertunjukan wayang. Dimana semua tokoh-tokoh Hindu dalam pewayangan diganti namanya dengan istilah Islam. Hal ini yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Selain itu juga bisa melalui seni kaligrafi, seni ukir dan seni bangunan.
6. Melalui politik
Saluran ini dengan cara mengislamkan rajanya terlebih dahulu. Kemudian baru rakyatnya mau memeluk agama Islam. Karena sabda raja adalah sabda Tuhan.
1. Melalui perdagangan
Kesibukan lalu lintas perdagangan abad ke-7 M hingga ke-16 M menjadikan para pedagang muslim ikut berpartisipasi didalamnya. Penyebaran Islam melalui jalur perdagangan ini sangat menguntungkan, karena para raja dan bangsawan turut ambil bagian dalam proses ini. Mereka berhasil mendirikan masjid-masjid dan mendatangkan para mullah-mullah dari negerinya sehingga jumlahnya semakin bertambah banyak. Dan karenanya anak-anak muslim itu menjadi orang Jawa dan kaya. Di beberapa daerah yang bupatinya dari kerajaan Majapahit banyak yang masuk Islam. Hal ini bukan hanya dilandasi faktor politik, tetapi juga karena hubungan dagang dengan kaum muslim.
2. Melalui pernikahan
Secara ekonomi status sosial para pedagang muslim lebih tinggi dibanding penduduk pribumi. Sehingga puteri-puteri pribumi tertarik untuk menjadi istri saudagar muslim tersebut. Sebelum dinikahkan, tentunya mereka harus masuk Islam terlebih dahulu. Dengan pernikahan ini keturunan semakin banyak dan lingkungan semakin luas. Jalur pernikahan lebih menguntungkan ketika anak saudagar muslim menikah dengan anak bangsawan atau anak raja. Sebagaimana yang terjadi antara Sunan Ampel dengan Nyai Manila.
3. Melalui tasawuf
Tasawuf mengajarkan akan kelembutan budi. Mereka mengajarkan ilmu tasawuf yang digabungkan dengan budaya yang sudah ada. Ajaran tasawuf yang dikembangkan berupa memanfaatkan kekuatan magis dan memiliki kemampuan menyembuhkan orang lain. Tentunya atas izin Allah swt.
4. Melalui pendidikan
Jalur ini dengan cara mendirikan pondok pesantren. Para penduduk pribumi dididik oleh para ulama’ dengan pendidikan yang kuat dan diberi bekal segala ilmu agama. Setelah dirasa cukup, mereka disuruh kembali ke daerahnya dan diharuskan menyebarkan ilmu yang telah didapatkan dipesantren.
5. Melalui kesenian
Yang paling terkenal adalah seni pertunjukan wayang. Dimana semua tokoh-tokoh Hindu dalam pewayangan diganti namanya dengan istilah Islam. Hal ini yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Selain itu juga bisa melalui seni kaligrafi, seni ukir dan seni bangunan.
6. Melalui politik
Saluran ini dengan cara mengislamkan rajanya terlebih dahulu. Kemudian baru rakyatnya mau memeluk agama Islam. Karena sabda raja adalah sabda Tuhan.
ISI
DAN PEMBAHASAN
Wujud
Akulturasi Kebudayaan Indonesia dan Kebudayaan Islam
Sebelum
Islam masuk dan berkembang, Indonesia sudah memiliki corak kebudayaan yang
dipengaruhi oleh agama Hindu dan Budha seperti yang pernah Anda pelajari pada
modul sebelumnya. Dengan masuknya Islam, Indonesia kembali mengalami proses
akulturasi (proses bercampurnya dua (lebih) kebudayaan karena percampuran
bangsa-bangsa dan saling mempengaruhi), yang melahirkan kebudayaan baru yaitu
kebudayaan Islam Indonesia. Masuknya Islam tersebut tidak berarti kebudayaan
Hindu dan Budha hilang. Bentuk budaya sebagai hasil dari proses akulturasi
tersebut, tidak hanya bersifat kebendaan/material tetapi juga menyangkut
perilaku masyarakat Indonesia.
1.
Seni Bangunan
Wujud
akulturasi dalam seni bangunan dapat terlihat pada bangunan masjid, makam,
istana. Wujud akulturasi dari masjid kuno memiliki ciri sebagai berikut:
a. Atapnya berbentuk tumpang yaitu
atap yang bersusun semakin ke atas semakin kecil dari tingkatan paling atas
berbentuk limas. Jumlah atapnya ganjil 1, 3 atau 5. Dan biasanya ditambah
dengan kemuncak untuk memberi tekanan akan keruncingannya yang disebut dengan
Mustaka.
b. Tidak dilengkapi dengan menara,
seperti lazimnya bangunan masjid yang ada di luar Indonesia atau yang ada
sekarang, tetapi dilengkapi dengan kentongan atau bedug untuk menyerukan adzan
atau panggilan sholat. Bedug dan kentongan merupakan budaya asli Indonesia.
c. Letak masjid biasanya dekat
dengan istana yaitu sebelah barat alun-alun atau bahkan didirikan di
tempat-tempat keramat yaitu di atas bukit atau dekat dengan makam.
Mengenai
contoh masjid kuno dapat memperhatikan Masjid Agung Demak, Masjid Gunung Jati
(Cirebon), Masjid Kudus dan sebagainya. Selain bangunan masjid sebagai wujud
akulturasi kebudyaan Islam, juga terlihat pada bangunan makam. Ciri-ciri dari
wujud akulturasi pada bangunan makam terlihat dari:
a. makam-makam kuno dibangun di atas
bukit atau tempat-tempat yang keramat.
b. makamnya terbuat dari bangunan
batu yang disebut dengan Jirat atau Kijing,nisannya juga terbuat dari batu.
c. di atas jirat biasanya didirikan
rumah tersendiri yang disebut dengan cungkup atau kubba.
d. dilengkapi dengan tembok atau
gapura yang menghubungkan antara makam dengan makam atau kelompok-kelompok
makam. Bentuk gapura tersebut ada yang berbentuk kori agung (beratap dan
berpintu) dan ada yang berbentuk candi bentar (tidak beratap dan tidak
berpintu).
e. Di dekat makam biasanya dibangun
masjid, maka disebut masjid makam dan biasanya makam tersebut adalah makam para
wali atau raja. Contohnya masjid makam Sendang Duwur di Tuban.
Bangunan
istana arsitektur yang dibangun pada awal perkembangan Islam, juga
memperlihatkan adanya unsur akulturasi dari segi arsitektur ataupun ragam hias,
maupun dari seni patungnya contohnya istana Kasultanan Yogyakarta dilengkapi dengan
patung penjaga Dwarapala (Hindu).
2.
Seni Rupa
Tradisi
Islam tidak menggambarkan bentuk manusia atau hewan. Seni ukir relief yang
menghias Masjid, makam Islam berupa suluran tumbuh-tumbuhan namun terjadi pula
Sinkretisme (hasil perpaduan dua aliran seni logam), agar didapat keserasian,
ditengah ragam hias suluran terdapat bentuk kera yang distilir.
Ukiran
ataupun hiasan, selain ditemukan di masjid juga ditemukan pada gapura-gapura
atau pada pintu dan tiang. Untuk hiasan pada gapura.
3.
Aksara dan Seni Sastra
Tersebarnya
agama Islam ke Indonesia maka berpengaruh terhadap bidang aksara atau tulisan,
yaitu masyarakat mulai mengenal tulisan Arab, bahkan berkembang tulisan Arab
Melayu atau biasanya dikenal dengan istilah Arab gundul yaitu tulisan Arab yang
dipakai untuk menuliskan bahasa Melayu tetapi tidak menggunakan tandatanda a,
i, u seperti lazimnya tulisan Arab. Di samping itu juga, huruf Arab berkembang
menjadi seni kaligrafi yang banyak digunakan sebagai motif hiasan ataupun ukiran.
Sedangkan
dalam seni sastra yang berkembang pada awal periode Islam adalah seni sastra
yang berasal dari perpaduan sastra pengaruh Hindu – Budha dan sastra Islam yang
banyak mendapat pengaruh Persia. Dengan demikian wujud akulturasi dalam seni
sastra tersebut terlihat dari tulisan/ aksara yang dipergunakan yaitu
menggunakan huruf Arab Melayu (Arab Gundul) dan isi ceritanya juga ada yang
mengambil hasil sastra yang berkembang pada jaman Hindu.
Bentuk
seni sastra yang berkembang adalah:
a. Hikayat yaitu cerita atau dongeng
yang berpangkal dari peristiwa atau tokoh sejarah. Hikayat ditulis dalam bentuk
peristiwa atau tokoh sejarah. Hikayat ditulis dalam bentuk gancaran (karangan
bebas atau prosa). Contoh hikayat yang terkenal yaitu Hikayat 1001 Malam,
Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Pandawa Lima (Hindu), Hikayat Sri Rama (Hindu).
b. Babad adalah kisah rekaan
pujangga keraton sering dianggap sebagai peristiwa sejarah contohnya Babad
Tanah Jawi (Jawa Kuno), Babad Cirebon.
c. Suluk adalah kitab yang
membentangkan soal-soal tasawwuf contohnya Suluk Sukarsa, Suluk Wijil, Suluk
Malang Sumirang dan sebagainya.
d. Primbon adalah hasil sastra yang
sangat dekat dengan Suluk karena berbentuk kitab yang berisi ramalan-ramalan,
keajaiban dan penentuan hari baik/buruk.
Bentuk
seni sastra tersebut di atas, banyak berkembang di Melayu dan Pulau Jawa.
4.
Sistem Pemerintahan
Dalam
pemerintahan, sebelum Islam masuk Indonesia, sudah berkembang pemerintahan yang
bercorak Hindu ataupun Budha, tetapi setelah Islam masuk, maka kerajaan-kerajaan
yang bercorak Hindu/Budha mengalami keruntuhannya dan digantikan peranannya
oleh kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam seperti Samudra Pasai, Demak, Malaka
dan sebagainya.
Sistem
pemerintahan yang bercorak Islam, rajanya bergelar Sultan atau Sunan seperti
halnya para wali dan apabila rajanya meninggal tidak lagi dimakamkan
dicandi/dicandikan tetapi dimakamkan secara Islam.
.
5.
Sistem Kalender
Sebelum
budaya Islam masuk ke Indonesia, masyarakat Indonesia sudah mengenal Kalender
Saka (kalender Hindu) yang dimulai tahun 78M. Dalam kalender Saka ini ditemukan
nama-nama pasaran hari seperti legi, pahing, pon, wage dan kliwon. Apakah
sebelumnya Anda pernah mengetahui/mengenal hari-hari pasaran? Setelah
berkembangnya Islam Sultan Agung dari Mataram menciptakan kalender Jawa, dengan
menggunakan perhitungan peredaran bulan (komariah) seperti tahun Hijriah
(Islam).
Pada
kalender Jawa, Sultan Agung melakukan perubahan pada nama-nama bulan seperti
Muharram diganti dengan Syuro, Ramadhan diganti dengan Pasa. Sedangkan
nama-nama hari tetap menggunakan hari-hari sesuai dengan bahasa Arab. Dan
bahkan hari pasaran pada kalender saka juga dipergunakan.
Kalender
Sultan Agung tersebut dimulai tanggal 1 Syuro 1555 Jawa, atau tepatnya 1
Muharram 1053 H yang bertepatan tanggal 8 Agustus 1633 M.
Demikianlah
uraian materi tentang wujud akulturasi kebudayaan Indonesia dan kebudayaan
Islam, sebenarnya masih banyak contoh wujud akulturasi yang lain, untuk itu
silahkan diskusikan dengan teman-teman Anda, mencari wujud akulturasi dari
berbagai pelaksanaan peringatan hari-hari besar Islam atau upacara-upacara yang
berhubungan dengan keagamaan.
PENUTUP
KESIMPULAN
Berkembangnya kebudayaan islam di Kepulauan Indonesia
telah menambah khasanah budaya nasional Indonesia, serta ikut memberikan dan
menentukan corak kebudayaan bangsa Indonesia. Akan tetapi karena kebudyaan yang
berkembang di Indonesia sudah begitu kuat di lingkungan masyarakat maka
berkembangnya kebudayaan Islam tidak menggantikan atau memusnahkan kebudayaan
yang sudah ada. Dengan demikian, terjadi akulturasi antara kebudayaan Islam
dengan kebudayaan yang sudah ada. Hasil proses akulturasi antara kebudayaan
sebelum Islam dengan ketika Islam masuk tidak hanya berbentuk fisik kebendaan
seperti seni bangunan, seni ukir, dan karya sastra tetapi juga menyangkut pola
hidup dan kebudayaan non fisik lainnya.
Akulturasi Islam juga menunjukkan betapa besar sikap
toleransi bangsa Indonesia terhadap kebudayaan dan agama yang masuk ke
Indonesia. Walaupun bangsa Indonesia bersikap terbuka, mereka tetap memegang
teguh kebudayaan asli Indonesia, Untuk itu, dalam dunia globalisasi seperti
sekarang ini seharusnya bangsa Indonesia bias selektif dalam menerima
kebudayaan asing agar bangsa Indonesia tetap memiliki kepribadian positif yang
sudah ada sejak dulu dan dimiliki bangsa Indonesia.
DAFTAR
PUSTAKA
Sejarah Indonesia kelas x
kurikulum 2013/Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan-Jakarta
http://variansaramadhan.wordpress.com/2012/07/22/proses-islamisasi-di-indonesia/
http://indonesianto07.wordpress.com/2008/11/09/perkembangan-dan-akulturasi-islam-di-indonesia/